Sabtu, 25 November 2017

A Little Things Called Love.




KENANGAN KECIL UNTUK CINTA YANG BESAR


Senyuman kecil kala itu.




            Jatuh cinta pertama. Bukan sekedar kata ‘cinta’ dan ‘pertama’. Cinta pertama juga bukan perihal saat dirimu menjatuhkan hati pada seseorang yang kamu kagumi lalu kamu menjatuhkan pilihan hati mu untuk nya. Bukan juga saat kamu menjerit tatkala dirinya mengirimi mu sebuah text tanda perkenalan. Lebih dari itu, sebuah ‘Cinta’ harus menjalani berbagai proses yang panjang.


            Perkenalan pertama saat itu sangat lucu untuk ku pribadi, kita berada pada posisi dimana diriku dan dirimu di perintahkan untuk mengisi soal matematika yang bahkan belum pernah kita bahas bersama guru di dalam kelas. Akibat dari kita berdua yang terlalu banyak bercanda dan tidak mau mendengarkan perintah dari guru yang disebut sebagai guru paling disiplin disana. Kita berdua berpandangan di depan kelas sambil tersenyum aneh, mendapati bahwa hanya kitalah yang di hukum sedangkan yang lain nya terkikik duduk di bangku mereka masing – masing memperhatikan kita yang tersiksa di depan kelas.

            Kita belum pernah sama sekali dekat saat itu. Kamu berada di sisi kiri bersama barisan para laki – laki dan aku berada di kanan bersama barisan para perempuan. Kita jarang berinteraksi, jarang menyapa bahkan untuk meminjam penghapus di kelas. Aku baru mengetahui nama mu saat itu. Padahal itu sudah bulan ke lima kita berada di kelas yang sama. Entah karena aku yang malas menghafal seluruh nama anak di kelas atau memang dirimu yang jarang menunjukkan eksistensi mu saat itu. Padahal kamu termasuk anak yang paling sering di panggil ke ruang kesiswaan kala itu. Ah mungkin salah ku, salah sifat super cuek ku.

            Masing – masing dari kita memegang sebuah spidol yang akan kita gunakan untuk mengisi jawaban di papan tulis putih tersebut. Kita berdua menghadap kearah papan tulis tanpa menulis apapun disana. Sudah ku bilang bukan kalau pelajaran ini belum pernah di bahas sebelumnya? Walaupun aku termasuk jajaran anak yang selalu berada di peringkat Lima besar, bukan berarti aku se pintar itu untuk menjawab pertanyaan di depan ini. Apalagi dirinya, yang ku ketahui langsung bahwa dia anak yang menduduki peringkat Tiga puluh di dalam kelas saat dia berbisik,

“Peringkat mu lebih besar, harusnya kamu mengetahui jawaban nya”

Aku menggernyit dan memandang nya malas, “Memang berapa peringkat mu?”

Dia tersenyum tanpa dosa dan membalas dengan gesture jari ‘Tiga’ dan ‘Nol’

            Aku memandang nya malas, dan menggeleng sebagai gesture bahwa aku juga tidak mengetahui jawaban nya. Saat itu, berakhirlah dengan kami berdua yang berdiri di depan kelas karena alasan tidak mendengarkan penjelasan guru, membuat berisik kelas dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru tersebut. Ya ya ya, aku kesal karena tidak mengetahui jawaban nya. Aku juga kesal dengan anak ini. Laki – laki ini seperti nya santai saja saat di hukum begini. huh, menyebalkan.

            Dari waktu ke waktu, melewati jam, menit, detik, hari dan bulan kami mulai dekat. Karena memang kami termasuk yang paling berisik di kelas, kami pun cepat akrab. Membicarakan apapun yang kami lihat, penting atau pun tidak. Bercanda sambil tertawa lepas, mengerjai teman kami yang tidur di kelas dengan nyaman nya. Pergi makan siang bersama saat istirahat dan bertukar nomor ponsel masing – masing.

            Sebuah pesan lucu yang sangat ku ingat hingga saat ini adalah saat dia berkata di pesan text nya dengan kata “Coba kenali siapa aku” dengan sebuah emoticon seseorang yang memeletkan lidah nya dengan jenaka. Aku tersenyum dan mampu menebak dengan gampang saat membuka pesan tersebut. Aku membalas dengan malas nya dengan mengatakan “Aku tidak mengenali mu, tolong jangan ganggu aku.” Tidak perlu menunggu lama, pesan ku langsung di balas pada menit selanjutnya, “Kau perempuan menyebalkan”, dan berlanjutlah dengan kami yang saling mengatai satu sama lain. Kami menghabiskan waktu sampai tengah malam dan tertidur setelah kami mengucapkan selamat malam dan mimpi indah di akhirnya.

            Pada masa itu, Dia adalah alasan kenapa aku selalu tersenyum saat memandang ponsel ku. Alasan kenapa aku akan tidur larut dan ibu memarahi ku karena kebiasaan baru ku tersebut. Alasan kenapa aku selalu terlambat masuk kelas pada pagi hari dan di perintahkan untuk berbaris di jam pertama pelajaran. Berbaris dengan dirinya yang berada di bagian paling depan sambil tersenyum dengan jenaka nya. Menyebalkan memang, tapi untunglah nilai ku tidak berubah menjadi buruk. Aku masih berada pada peringkat di bagian atas di kelas ku, sedangkan dia, kalian harus tahu kalau dia adalah anak pemalas di kelas. Peringkat nya tidak menginjak angka Dua puluh pada saat pengambilan rapor kami saat itu. Dia masih berada pada angka Tiga puluh. Dasar.

            Lalu, pagi selanjutnya, satu bulan sebelum hari Ujian Kelulusan kami. Saat sekolah kami mengadakan hari bebas untuk para murid dengan menyelenggarakan bermacam perlombaan antar kelas. Dia membawaku agar tetap bersama dengan nya selama acara, berteriak membela kelas kami yang sedang berjuang di lapangan melawan kelas lain dalam perlombaan voli. Kami berdua dengan heboh melemparkan conveti kearah lapangan perlombaan sambil tertawa lepas. Tapi kemudian, kami yang di perintahkan untuk membersihkan area lapangan, karena kami adalah dua orang yang tidak berhenti meleparkan conveti pada saat itu.

            Di sore yang tidak terlalu terik tersebut, kami membersihkan ulah kami tanpa menggerutu. Justru karena kami sangat menikmati moment ini. Hanya berdua di lapangan sekolah dengan candaan nya dan tawa ku yang memenuhi sore ini. Terpaan angin sore saat itu sangat sejuk, senyuman nya yang sangat lebar membawa ku ingin ikut tersenyum pula. Sebuah kebahagiaan kecil yang aku rasakan pada saat itu. Di tambah lagi sebuah kata manis yang dia ucapkan kala itu.

            Aku tidak tahu kenapa dada ku berdegub dengan kencang nya, aku juga tidak mengerti kenapa pipi ku bersemu merah dengan lengkungan bibir yang tidak pernah luntur, aku tersenyum dan aku mengakui bahwa senyuman itu adalah senyuman terlebar yang aku sematkan saat itu. Ungkapan mu yang bahkan hanya ku balas dengan sebuah anggukan tersebut adalah hal kecil yang masih ku ingat hingga detik ini.


“Jika kamu sudah mendapatkan impian mu, dan aku sudah mendapatkan impian ku, mari kita menikah”



Ucapan lucu yang diungkapkan anak berusia tujuh belas tahun, ditengah lapangan sekolah yang masih tersisa banyak sampah conveti, dengan kami yang memegang sapu di masing – masing tangan kami, dan tangan lain kami yang bebas saling bertautan kala itu. Dengan senyuman cerah mu saat memandangku, tatapan mata penuh cinta anak sekolahan. Wajah mu yang ikut merona sangat terlihat lucu di mata ku, jarang sekali kamu menunjukkan rona merah itu.



Bagiku, cinta pertama bukan sekedar saat kamu mengatakan bahwa kamu mencintai seseorang saat pandangan pertama, bukan pula saat kamu mendapatkan ciuman pertama, bukan juga ketika kamu berpegangan tangan bersama kekasih mu. Lebih dari itu, cinta pertama menurutku adalah saat kamu memandangan kedalam bola mata nya ada sebuah ketulusan yang akan dia berikan untuk mu, sebuah cinta yang luar biasa yang akan kalian ceritakan pada anak cucu kalian nanti, sebuah perasaan hangat di mana saat kamu memandang matanya, kamu akan langsung menetap kan bahwa dia adalah masa depan mu, bahwa dia adalah orang yang sudah kau tunjuk untuk mengisi masa tua mu bersama dengan nya.


Sejak aku melihat senyuman mu, Aku mendapatkan kekuatan baru, kekuatan berkat senyuman mu kala itu. Senyuman yang akan aku ingat sampai kapan pun. Tatapan mata penuh ketulusan dan ucapan manis yang masih ku ingat hingga saat ini.



Aku benar – benar jatuh padamu.


                                                     SYENI FEBRIYANI

               Untuk mu yang sampai saat ini masih betah berada di relung hati terspecial ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar